← Kembali ke Esai
7 menit baca

Kita Tidak Memilih untuk Lahir — Lalu Kenapa Harus Bertanggung Jawab?

Kita dilempar ke dunia tanpa persetujuan. Justru karena tidak memilih awalnya, keputusan memikul tanggung jawablah yang membuat hidup ini menjadi milik kita.

Kita Tidak Memilih untuk Lahir — Lalu Kenapa Harus Bertanggung Jawab?

Renungkan satu fakta yang begitu mendasar sampai kita jarang memikirkannya: tidak ada seorang pun yang memilih untuk ada. Kelahiran adalah keputusan yang diambil orang lain, tentang kita, sebelum kita bisa berkata apa-apa. Kita datang ke dunia yang sudah berjalan — dengan keluarga tertentu, bahasa tertentu, zaman tertentu, lengkap dengan aturan dan kewajiban yang tidak pernah kita setujui. Lalu, sejak napas pertama, dunia menuntut kita bertanggung jawab atas semuanya. Di sinilah letak sebuah ketegangan yang jarang berani kita ucapkan.

Godaan untuk Menjadi Pahit

Dari fakta ini, sebagian orang menarik kesimpulan yang gelap. Filsuf David Benatar berargumen bahwa karena seorang anak tidak bisa memberikan persetujuan untuk dilahirkan, maka melahirkannya berarti membebani seseorang dengan risiko penderitaan tanpa izinnya. Ini argumen yang tajam, dan kita tidak akan berpura-pura ia tidak ada.

Tetapi kalau kita berhenti di sini, kita hanya mendapat kepahitan — dan kepahitan bukanlah jawaban, ia hanya jalan buntu. Pertanyaan "apakah adil kita dilahirkan?" adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dan tidak bisa diubah. Memutar-mutarnya hanya menguras energi tanpa hasil. Ada pertanyaan yang jauh lebih berguna, dan lebih berani: setelah terlanjur ada, apa yang kita lakukan dengannya?

Keterlemparan Bukan Akhir Cerita

Filsuf Martin Heidegger punya satu kata untuk kondisi ini: keterlemparan. Kita "dilempar" ke dunia yang sudah berjalan, tanpa pernah memilih titik awalnya — termasuk ikatan kekerabatan and kewajiban yang tidak kita pilih. Ini bukan keluhan; ini fakta paling dasar dari keberadaan kita. Persoalannya bukan bagaimana menyangkal keterlemparan itu, melainkan apa yang kita lakukan setelah menyadarinya.

Di sinilah Jean-Paul Sartre membalik seluruh persoalan. Ia menyebut manusia "terhukum untuk bebas". Terhukum, katanya, karena kita tidak menciptakan diri kita sendiri — namun begitu terlempar ke dunia, kita bertanggung jawab atas segala yang kita lakukan. Perhatikan logikanya: justru karena tidak ada yang memilih awalnya, tidak ada pula yang bisa kita salahkan atas kelanjutannya. Tanggung jawab itu bukan hukuman yang dijatuhkan orang tua atau masyarakat kepada kita. Ia adalah konsekuensi tak terelakkan dari kebebasan. Kita tidak memilih untuk hidup, tetapi setiap tindakan setelahnya adalah pilihan kita.

Pemberontakan yang Membebaskan

Dan di sinilah tanggung jawab berubah dari beban menjadi kepemilikan. Albert Camus menggambarkannya lewat mitos Sisifus — manusia yang dihukum mendorong batu ke puncak, hanya untuk melihatnya jatuh kembali, selamanya. Hidup yang tampak absurd. Tetapi Camus menolak dua jalan keluar yang mudah: menyerah, atau berpura-pura ada makna yang diberikan dari luar. Ia memilih jalan ketiga — pemberontakan. Sisifus, kata Camus, bisa kita bayangkan bahagia, bukan karena batunya berhenti jatuh, melainkan karena ia memilih memiliki perjuangannya sendiri. Justru dalam menanggung apa yang tidak ia pilih dengan penuh kesadaran, martabatnya lahir.

Hidup yang Menjadi Milikmu

Jadi begini kesimpulannya. Kita memang tidak memilih untuk lahir. Tetapi justru karena tidak memilih, satu-satunya hal yang membuat hidup ini benar-benar menjadi milik kita adalah keputusan untuk memikulnya. Berbakti, mencintai, bekerja, bertanggung jawab — itu bukan utang yang dipaksakan kepada kita karena kita dilahirkan. Itu adalah cara kita mengambil alih kepemilikan atas hidup yang tadinya hanya terjadi pada kita. Kebebasan sejati bukan memilih dari mana kita mulai; ia adalah memilih sikap kita terhadapnya. Dan di situlah, untuk pertama kalinya, hidup ini benar-benar menjadi milikmu.

Rujukan & Sumber Kepustakaan

  1. Martin Heidegger — Being and Time (1927), konsep keterlemparan (Geworfenheit)
  2. Jean-Paul Sartre — Existentialism is a Humanism (1946), 'terhukum untuk bebas'
  3. Albert Camus — The Myth of Sisyphus (1942), absurditas & pemberontakan
  4. David Benatar — Better Never to Have Been (2006), argumen persetujuan (antitesis)